Wednesday, August 16, 2017

ULASAN FILM OUR LITTLE SISTER : KERUKUNAN YANG PALING UTAMA DALAM SEBUAH KELUARGA


Sebenarnya setiap individu mempunyai masalah tersendiri dalam hidupnya. Namun bagaimana tiap individu menyelesaikan masalah itu adalah tergantung pilihan mereka masing-masing. Perselisihan seringkali timbul dalam proses penyelesaian masalah. Lari dari masalah juga merupakan sebuah pilihan jalan keluar .Namun masalah sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Jika menghadapinya dengan bijak, setiap pelajaran dan hikmah pasti akan didapatkan di penghujung jalan.


Our Little Sister, film ini bertema kekeluargaan. Salah satu film drama keluarga terbaik menurutku yang selama ini pernah aku lihat setelah Little Miss Sunshine . Jika benar-benar serius dan menghayati film ini dari awal hingga akhir, aku yakin akan banyak pesan moral yang didapatkan.


Intinya dalam hidup ini kalian pasti pernah kan dilanda perasaan benci. Dan mungkin kalian juga pernah membenci seseorang.  Entah karena orang itu telah melakukan hal yang buruk seperti  melukai hati maupun berbuat salah terhadap kalian. Jika dikuasai perasaan benci, dimanapun kalian bertemu orang yang kalian benci tersebut pasti kalian akan memalingkan muka, acuh tak acuh. Bahkan jika orang tersebut mempunyai anak, kalian akan menatap anak itu dengan tatapan tajam dan dingin seolah anak itu juga melakukan dosa yang pernah orang tuanya lakukan terhadap kalian. Lalu jika sudah begitu, kedua belah pihak sama-sama sudah melakukan hal yang keliru. Kerukunan, tak akan pernah tercapai jika situasi berjalan seperti itu. 


Our Little Sister, mengambil konflik internal dikarenakan tindakan tercela di masa lalu yang hanya menyisakan rasa kebencian yang terus tumbuh dimasa sekarang hingga meretakkan hubungan kekeluargaan. Namun, yang luar biasa adalah tindakan-tindakan bijak yang diambil untuk memperbaikinya. Dan belajar dari kesalahan-kesalahan agar tidak terulang dikemudian hari.


Keluarga Kouda mempunyai tiga orang anak perempuan, yakni Sacchi 29th, Yoshino 22th, dan terakhir Chika 19th. Mereka bertiga sudah tumbuh dan berkembang  sejak kecil tanpa orang tua. Bukan karena kedua orang tua mereka meninggal sejak kecil, melainkan ayah mereka yang selingkuh dengan wanita lain hingga menyebabkan ibu mereka sakit hati yang berujung dengan tindakan mengejutkan sang ibu yang tega minggat dari rumah serta memilih hidup menyendiri— secara enteng melepas tanggung jawab merawat ketiga anaknya.


Sacchi (29) bekerja sebagai seorang perawat di rumah sakit. Dia adalah anak dari keluarga Kouda yang paling tua. Dia sudah seperti sosok ibu meski belum menikah. Hal itu terlihat jelas dari bagaimana tanggung jawabnya merawat rumah yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Ketiadaan orang tua, otomatis membuatnya menjadi kepala rumah tangga. Dia juga pastinya yang merawat adik-adiknya sejak kecil semenjak ditinggal sang ayah pada umur 14 tahun. Sosoknya tegas, namun dibalik ketegasannya dia mempunyai jiwa penyayang.


Yoshino (22), anak kedua dari keluarga Kouda. Bekerja sebagai teller di sebuah bank. Yoshino adalah yang paling cantik, memiliki tubuh paling tinggi diantara ketiganya, paling proporsional. Namun dibalik kesempurnaannya, dia sering dikecewakan oleh banyak lelaki perihal asmara. Kebiasaannya yang sering berkorban apapun demi lelaki yang dicintainya, sering mendapat kritik oleh kakakknya Sacchi. Kakakknya sering mengatakan jika dirinya hanya dimanfaatkan saja oleh para lelaki tetapi Yoshino tipikal yang keras kepala dan judes. Meski begitu, terlepas dari dirinya yang sering dimanfaatkan oleh para lelaki, sifat dasarnya memang suka membantu, bahkan membantu siapapun dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan.


Chika (19), adalah anak yang paling muda dalam keluarga Kouda. Dia bekerja sebagai karyawan di toko sepatu olahraga milik bosnya yang sekaligus merangkap sebagai kasir. Karena berkedudukan sebagai adik yang paling kecil, dia sering diperintah-perintah oleh kakaknya Yoshino. Namun walau begitu, Chika anaknya sangat ceria dan periang. Dia jarang sekali emosi. Sifatnya sangat easy going. Dengan siapapun dia mudah beradaptasi dan enak untuk dijadikan teman mengobrol.


Suatu hari, ketiga saudari itu mendapatkan kabar ayahnya meninggal dunia karena sakit setelah 15 tahun meninggalkan mereka tanpa kabar sekalipun. Dari pihak keluarga ayahnya mengharapkan kehadiran ketiga sang anak dalam proses pemakaman. Dari ketiga saudari itu, mungkin hanya Sacchi yang paling lama mengenal almarhum ayahnya.  Sedangkan Yoshino masih kecil dan Chika bahkan masih bayi saat ayahnya pergi meninggalkan mereka.


Namun, Sacchi enggan untuk pergi menghadiri pemakaman sang ayah. Dia beralasan ada jadwal padat di rumah sakit yang bertabrakan dengan acara pemakaman sang ayah. Jadi Sacchi memutuskan agar kedua adiknya saja yang menghadiri acara pemakaman. Alasan jadwal yang padat sebenarnya hanya dibuat-buat saja. Sacchi sebenarnya membenci sosok ayahnya. Dia pasti akan tertekan jika menghadiri pemakaman sosok ayah yang tak pernah terdengar kabarnya selama 15 tahun. Apalagi bertemu dengan istri kedua ayahnya yang mana bagi Sacchi adalah biang kerok yang menyebabkan rumah tangga Kouda hancur. 


Namun kenyataannya, Sacchi mengagetkan Yoshino dan Chika dengan kemunculannya secara tiba-tiba di tengah prosesi upacara pemakaman sang ayah. Ternyata, keluarga yang saat ini tengah berduka adalah dari pihak istri ke-3 ayahnya. Darisitu diketahui bahwa istri ke-2 ayahnya telah meninggal sejak lama. Sacchi awalnya enggan hadir salah satunya dikarenakan dirinya tidak sudi bertemu dengan istri ke-2 ayahnya, namun dia tak menduga bahwa ayahnya sudah menikah lagi dan istri ke-duanya sudah lama meninggal.


Ketika bertemu dengan istri ke-3 ayahnya, Sacchi menilai bahwa istri ke-3 ayahnya bukanlah gambaran sosok istri yang ideal. Hal itu terlihat dari mimik kesedihannya yang seolah dibuat-buat, ketika disuruh menerima tamu pun istri ke-3 ayahnya seperti keberatan melakukan tugas sepele itu, terkesan seperti ingin acara pemakaman ini segera berakhir, menganggap bahwa sosok suaminya yang telah meninggal bukanlah sebuah kehilangan yang besar. Dari situ Sacchi yakin, istri ke-3 ayahnya ini bukanlah sosok yang merawat ayahnya maupun yang menemani ayahnya di saat-saat terakhir menjelang ajal di rumah sakit.


Dari acara pemakaman itu juga, Sacchi bertemu dengan Suzu Asano. Seorang gadis yang masih berumur 14 tahun anak dari istri ke-dua ayahnya yang telah tiada. Dari semua tamu yang hadir, Sacchi merasa Asano lah yang terlihat sangat bersedih atas kematian ayahnya. Asano nampak begitu kehilangan sosok ayah. Dari situ Sacchi mendekatkan diri kepada Asano dan bertanya apakah Asanolah yang merawat ayahnya selama ini, dan Asano menganggukkan kepala. Dan dugaan Sacchi benar, istri ke-3 ayahnya tidak peduli kepada ayahnya dan malah adik tirinya inilah yang merawat ayahnya selama ini.


Tidak jelas apakah dari Almarhummah ibu Asano selaku istri ke-dua ayah Sacchi yang sudah meninggal tidak mempunyai saudara atau bagaimana, dengan kematian ayahnya, maka Asano resmi statusnya disini menjadi seorang anak yang sebatang kara. Entah dikarenakan Sacchi merasa berterima kasih kepada Asano yang telah merawat ayahnya selama ini atau lebih karena merasa kasihan, tanpa menimbang-nimbang terlebih dahulu dia langsung menawarkan Asano agar tinggal serumah dengan dirinya beserta kedua kakak tirinya Yoshino dan Chika. Saat itulah, dengan senang hati Asano menerima tawaran Sacchi.


Akhirnya, Asano tinggal serumah dengan ketiga saudari tirinya yang lebih tua. Karena Sacchi, Yoshino dan Chika semua sudah bekerja, mereka patungan untuk merawat Asano dan menyekolahkannya di salah satu SMP. Asano mahir bermain bola meski dia seorang wanita, oleh sebab itu dia bergabung dengan klub lokal Octopus. Chika dan bosnya sering bersama melihat pertandingan Asano dikarenakan Asano sering mengunjungi toko sepatu olahraga dimana tempat Chika bekerja ketika ingin mencari sepatu bola. Asano juga dekat dengan seorang teman pria yang memahaminya, jadi Yoshino selaku kakak tiri yang sudah lebih berpengalaman dalam hal asmara selalu saja menyentil Asano perihal sosok lelaki yang sedang dia sukai.


Dari keempat saudari itu, mungkin Sacchi yang merasa paling banyak mendapatkan tekanan. Ketika Bibinya berkunjung, sang bibi mempertanyakan keputusan Sacchi yang merawat Asano. Sang Bibi menyesalkan bahwa di usia Sacchi yang menginjak 29 tahun, dimana dia seharusnya menabung untuk masa depan dan memikirkan soal menikah, malah memutuskan menghabiskan waktunya merawat Asano dan menyisihkan tabungan pribadi untuk membiayai kebutuhan Asano termasuk sekolah. 


Melihat itu sang bibi kecewa. Sacchi sudah melewatkan banyak waktunya sebagai wanita lajang demi merawat kedua adiknya dan disaat seharusnya dia harus menikah, dia malah melakukan hal bodoh merawat Asano. Sang bibi merasa kehadiran Asano hanya akan menghambat Sacchi menjadi seorang ibu. Terlebih Asano adalah anak dari seseorang yang telah menghancurkan keluarga Sacchi. Tak lupa sang bibi mengutarakan bagaimana nanti jika Ibu Sacchi berkunjung ke rumah suatu hari dan mendapati ada anak dari seorang wanita yang telah merengut suaminya?


Jawaban Sacchi dalam film ini sangat bijaksana. Sacchi hanya mengutarakan bahwa ketika kejadian keluarganya hancur oleh kemunculan Ibu Asano, saat itu Asano belumlah ada. Dan Asano sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kehancuran keluarganya. Bagi Sacchi, menerima, mengampuni, memaafkan serta megikhlaskan lebih penting daripada harus menjauhi dan membenci. Sacchi yakin menghadirkan Asano dalam keluarganya akan mendatangkan kebaikan dan sebuah tindakan berani untuk memperbaiki segalanya.  


Sacchi sendiri mempunyai hubungan yang dekat dengan seorang dokter di rumah sakit tempatnya bekerja. Dokter itu sebenarnya mempunyai istri, namun sang istri sakit terserang lumpuh dan menjalani perawatan khusus. Si dokter sudah berpisah lama dengan sang istri karena tempat dinas kerjanya berjauhan dan sang istri pun tak bisa berkomunikasi sama sekali. 


Ditinjau dari ketidakberdayaan sang istri, sebenarnya sah-sah saja bila sang dokter suatu saat menceraikannya didasarkan oleh kondisi sang istri sudah tak bisa 100% lagi menjalankan tugasnya sebagai seorang pendamping. Pada posisi dan situasi yang dialami sang dokter, Sacchi telah melangkah jauh dengan mengambil tindakan menjalin hubungan lebih dekat dengan si dokter. Sacchi terkadang mampir di apartemen si dokter untuk membuatkannya makan. Sacchi terlihat sebagai sosok yang ideal bagi pendamping seorang dokter. Calon potensial pengganti istri dokter yang lumpuh di masa depan. Jelas saja, kedekatan dokter dan Sacchi menimbulkan perasaan saling suka.


Suatu hari, saat Sacchi mampir di apartemen, si dokter menjelaskan kepada Sacchi bahwa dirinya akan ke Amerika. Si dokter ingin mempelajari lebih lanjut soal penyakit syaraf disana. Si dokter berniat mempelajari pengobatan penyakit syaraf dikarenakan istrinya lumpuh oleh penyakit itu. Jadi si dokter bertekad agar bisa menyembuhkan jika ada seseorang yang mengalami penyakit serupa dengan yang dialami istrinya kedepannya sehingga tidak ada lagi namanya kebahagiaan yang terengut akibat lumpuh. Yang mengejutkan, si dokter ingin turut serta mengajak Sacchi bersamanya. Jika Sacchi bersedia, si dokter akan menceraikan istrinya dan tentu, akan membahas soal pernikahan dengan Sacchi.


Meski sudah hidup serumah dengan keluarga Kouda, Asano tetaplah menyimpan rasa bersalah yang besar terhadap ketiga kakak tirinya yakni Sacchi, Yoshino dan Chika. Asano suatu hari pernah secara terang-terangan meminta maaf kepada Sacchi, mengutarakan bahwa karena tindakan ibunya yang mencintai ayah Sacchi dahulu kala, mencintai suami orang lain,  membuat keluarga Kouda harus hancur berantakan. Permintaan maaf Asano itu membuka mata Sacchi, menyadarkan posisi kehidupannya saat ini dimana dirinya hadir sebagai wanita kedua dalam kehidupan sang dokter. Jelas disini kehadiran Asano sangat mempengaruhi keputusan Sacchi dalam hal asmaranya. Apakah Sacchi harus menerima apa yang dokter pujaannya tawarkan, atau merelakan dengan dasar kebijaksanaan.


Suzu Asano. Gadis yang sangat mencintai ayahnya. Gadis 14 tahun yang merasa dirinya tidak pernah diterima dimanapun. Saat ikut bersama ibu tirinya istri ke-3 ayahnya pun dia serasa tidak diterima. Beruntung Sacchi mau merawatnya. Meski begitu, dia hidup dibawah tekanan dosa yang pernah ibunya perbuat terhadap keluarga Kouda dalam ruang lingkup kehidupannya bersama ketiga kakak tirinya. Asano membenci ibunya karena telah melakukan tindakan bodoh, melahirkannya atas dasar penderitaan keluarga orang lain. 

Pada umur 14 tahun, Sacchi hanyalah gadis kecil ingusan yang belum sadar ingin ditinggal oleh ayahnya karena wanita lain, dan segera akan mulai menjalani kehidupan beratnya merawat kedua adiknya. Dari proses itu Sacchi tumbuh berkembang tanpa sosok ayah maupun ibu yang membimbingnya menjadi seorang pribadi yang dewasa. Jelas disini Sacchi berjuang seorang diri menggapai tingkat kedewasaanya tanpa bimbingan orang tua. Berkebalikan dengan Sacchi, Asano yang baru menginjak umur 14 tahun sudah memiliki tingkat kedewasaan yang matang melebihi kedua kakak tirinya baik Yoshino dan Chika sekalipun. Hal itu membuat Sacchi berpikir apakah benar ayahnya adalah seorang bajingan yang hanya gemar bergonta-ganti istri? Sosok ayah yang Sacchi benci, mampu mendidik dan memberikan adik tiri luar biasa seperti Asano yang selalu berbakti dan mempunyai pribadi kedewasaan yang selevel dengan dirinya pada umurnya yang masih belia.    
     

Poin bagus yang ada pada Our Little Sister adalah semua berjalan tanpa adanya dramatisasi yang alay, lebay maupun berlebihan. Aku bisa menjamin semuanya sangat natural, kalian semua tak akan bisa membedakan antara berakting dengan kehidupan nyata. Semua serba berjalan layaknya kehidupan sehari-hari. Itu karena memang kepiawaian sang sutradara dalam meracik adegan dan para aktrisnya yang memerankan para tokoh dengan totalitas. Siapa saja yang melihat Our Little Sister tanpa sadar sudah ditarik masuk menjadi salah satu bagian dari mereka.


Sama seperti dulu  ketika aku selesai melihat film genre drama keluarga Little Miss Sunshine. Setelah melihat Little Miss Sunshine aku menjadi tersentuh dengan film itu, dan mencoba browsing, darisitu  mendapati bahwa Little Miss Sunshine memenangkan 2 buah piala oscar. Sedangkan, rasa menyentuh yang sama seperti aku menonton film Little Miss Sunshine juga aku rasakan di Our Little Sister. Jadi aku penasaran apakah film sekelas Our Little Sister juga meraih penghargaan? Setelah browsing, akhirnya aku mendapati Our Little Sister mendapat penghargaan film terbaik di Jepang tahun 2016 lalu. Selain film terbaik masih banyak kategori lainnya seperti sutradara terbaik, cinematography terbaik, pencahayaan terbaik dan aktris pendatang baru terbaik (Suzu Hirose) yang memerankan tokoh Asano serta beragam nominasi bergengsi lainnya.


Jika ingin melihat film bertema kekeluargaan dengan konflik ringan dan berbobot, pesan moral disetiap percakapan dan pelajaran berharga disana-sini selama film berlangsung, mungkin Our Little Sister bisa dijadikan bahan rujukan. Sekian.

4 comments:

Misaki PureBlood said...

Dah tengok cerita ni :D walaupun slow, tapi menarik :D

cerita pasal family <3 I like it

Arief W.S said...

Misaki @ I Like Too Hikari :P

Amri Evianti said...

Aku belum pernah nonton keduanya nih. hehehe. bisa disave buat persiapan hahahai

Arief W.S said...

Evi @ waaah persiapan nonton ma mas suami nih hihi :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...